Selasa, 26 Juni 2012

PROBLEM POSING


MODEL PEMBELAJARAN PROBLEM POSING
UNTUK MENINGKATKAN MOTIVASI BELAJAR MATEMATIKA
TENTANG BARISAN DAN DERET BILANGAN
SISWA KELAS IX-E SMP NEGERI 13 PURWOREJO

Oleh. Teguh Widodo, S.Pd., M.M
(Guru Matematika SMP Negeri 13 Purworejo)

ABSTRAK
Tujuan dari penelitian tindakan kelas ini adalah untuk meningkatkan motivasi belajar barisan dan deret bilangan melalui model pembelajaran problem posing bagi siswa kelas IX-E SMP Negeri 13 Purworejo semester genap tahun pelajaran 2007/2008.
Penelitian Tindakan kelas ini dilakukan pada bulan Desember 2007 sampai bulan April 2008 di SMP Negeri 13 Purworejo Jalan Tentara Pelajar N0 2 Kutoarjo Kabupaten Purworejo. Subyek penelitian adalah siswa kelas IX-E SMP Negeri 13 Purworejo tahun pelajaran 2007/2008 yang berjumlah 40 anak.
Penelitian dilakukan dengan menggunakan metode penelitian tindakan kelas yang terdiri dari dua siklus dan tiap siklus terdiri dari empat tahapan, yaitu menentukan perencanaan tindakan, melaksanakan tindakan, melakukan pengamatan hasil tindakan dan melakukan refleksi dari hasil pengamatan. Tiap siklus menggunakan menggunakan model pembelajaran problem posing.
Hasil penelitian menunjukkan motivasi dan aktivitas siswa secara individu nenunjukan peningkatan dari cukup hingga sangat baik pada siklus I mencapai 70%, dan pada siklus II terjadi peningkatan yang cukup baik yaitu menjadi 85%. Hasil penelitian pada siklus II juga menunjukan bahwa sikap siswa dalam menerima materi pelajaran  sudah menunjukan sikap yang lebih serius, antusias, dan senang yaitu hingga mencapai 90%, serta penyelesaian tugas-tugas yang dikerjakan oleh siswa juga mengalami peningkatan hingga mencapai 90%. Sedangkan dilihat dari prestasi hasil belajar siswa  yang sebelum siklus I hanya memperoleh  rata-rata 6,75 dan ketuntasan belajar klasikal 68%, ternyata setelah digunakan model pembelajaran problem posing pada siklus I diperoleh rata-rata sebesar 7,85 dengan ketuntasan belajar klasikal mencapai 80%, hingga pada siklus II mengalami peningkatan yang cukup baik yaitu memperoleh rata-rata sebesar 8,25 dan ketuntasan belajar klasikal mencapai  84%.
Kata Kunci: Problem Posing, Pembelajaran, Barisan dan Deret Bilangan.

PENDAHULUAN
Latar Belakang
Motivasi belajar siswa dapat dilihat dari sikap dan perilaku siswa dalam proses belajar mengajar. Motivasi belajar matematika tentang barisan dan deret bilangan siswa kelas IX-E semester genap SMP Negeri 13 Purworejo sangat rendah hal ini dalam dilihat pada rendahnya motivasi siswa dalam mengikuti pelajaran serta cara menjawab pertanyaan yang diajukan guru terkesan asal-asalan.
Padahal motivasi belajar siswa yang rendah tersebut dapat berpengaruh terhadap prestasi hasil belajar siswa. Untuk itulah peneliti tertarik melakukan penelitian tindakan kelas dengan harapan setelah dilakukan penelitian tindakan kelas dapat meningkatkan motivasi belajar matematika tentang barisan dan deret bilangan siswa kelas IX-E SMP Negeri 13 Purworejo.
Banyak faktor yang menyebabkan rendahnya motivasi belajar matematika tentang barisan dan deret bilangan  bagi siswa kelas IX-E SMP Negeri 13 Purworejo. Faktor-faktor tersebut antara lain faktor siswa, faktor materi, faktor guru, faktor proses dan sebagainya. Salah satu faktor proses tersebut adalah kurang tepatnya model pembelajaran yang diterapkan guru dalam membahas materi tentang volum dan luas sisi bangun ruang sisi lengkung.
Banyak model yang dapat diterapkan dalam pembelajaran matematika, tetapi dalam penelitian ini peneliti hanya akan meneliti satu model saja yaitu model problem posing. Dengan menggunakan model problem posing diharapkan dapat meningkatkan motivasi belajar matematika tentang barisan dan deret bilangan bagi siswa kelas IX-E SMP Negeri 13 Purworejo.
Untuk meningkatkan motivasi belajar matematika tentang barisan dan deret bilangan siswa kelas IX-E, peneliti perlu melakukan tindakan dengan menggunakan model problem posing dalam pembelajaran. Pada siklus I peneliti akan menggunakan model problem posing dengan penugasan tugas kelompok besar dimana satu kelompok terdiri dari delapan siswa, sedangkan pada siklus II peneliti akan menggunakan model problem posing dengan penugasan tugas kelompok kecil dimana satu kelompok terdiri empat siswa yakni dengan teman satu meja dan meja depan atau belakangnya.
Rumusan Permasalahan
Permasalahan dalam penelitian tindakan kelas ini adalah apakah model problem posing dapat meningkatkan motivasi belajar barisan dan deret bilangan bagi siswa kelas IX-E SMP Negeri 13 Purworejo semester genap tahun pelajaran 2007/2008?
Tujuan Penelitian
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk meningkatkan motivasi belajar barisan dan deret bilangan melalui model problem posing bagi siswa kelas IX-E SMP Negeri 13 Purworejo semester genap tahun pelajaran 2007/2008.

KAJIAN TEORI
Pembelajaran
Menurut Yulaelawati (2004: 54) dalam teori konstruktivistik, belajar merupakan proses yang aktif dimana pengetahuan dikembangkan berdasarkan pengalaman dan perundingan (negosiasi) makna melalui berbagai informasi atau mencari kesepakatan dari berbagai pandangan melalui interaksi atau kerja sama dengan orang lain. Pembelajaran yang dalam hal ini pengajaran menurut Rohani (2004: 01) merupakan aktivitas (proses) yang sistematis dan sistematik yang terdiri atas banyak komponan. Lebih lanjut Rohani (2004: 04) menjelaskan bahwa suatu pengajaran akan bisa disebut berjalan dan berhasil secara baik, manakala ia mampu mengubah diri peserta didik dalam arti yang luas serta mampu menumbuhkembangkan kesadaran peserta didik untuk belajar sehingga pengalaman yang diperoleh peserta didik selama ia terlibat dalam proses pengajaran itu, dapat dirasakan manfaatnya secara langsung bagi perkembangan pribadinya.
Teori Motivasi
McDonald (dalam Soemanto, 2006: 203), memberikan sebuah definisi tentang motivasi sebagai suatu perubahan tenaga di dalam diri/pribadi seseorang yang ditandai oleh dorongan afektif dan reaksi-reaksi dalam usaha mencapai tujuan. Pengertian motivasi ini mengandung tiga unsur yaitu: (1) motivasi dimulai dengan suatu perubahan tenaga dalam diri seseorang, (2) motivasi itu ditandai oleh dorongan afektif, dan (3) motivasi ditandai oleh reaksi-reaksi mencapai tujuan. Motivasi merupakan bagian dari learning.
 Menurut Lambas dkk (2004: 7), motivasi juga dapat didefinisikan sebagai tenaga pendorong  yang menyebabkan adanya tingkah laku ke arah suatu tujuan tertentu. Adanya motivasi pada siswa dapat terindikasi oleh kuatnya tingkah laku siswa untuk mencapai tujuan. Apabila siswa mempunyai motivasi tinggi maka ia akan: (1) memperlihatkan minat dan mempunyai perhatian, (2) bekerja keras dan memberikan waktu kepada usaha tersebut, serta (3) terus bekerja sampai tugas terselesaikan. Guru dapat meningkatkan motivasi kompetensi siswa dengan menerapkan pendekatan internal sehingga unjuk kerja siswa dapat berubah, dan siswa dapat mengontrol prestasinya. Hal itu dapat dilakukan dengan jalan: (1) memberikan kesempatan kepada siswa untuk melihat diri sendiri secara objektif, (2) menyesuaikan tingkat kesukaran tugas dengan kemampuan    siswa,    sehingga   siswa   mempunyai   harapan    untuk    berhasil, (3) memberikan kesempatan kepada siswa untuk melakukan tugas yang mempunyai nilai tinggi dan membangkitkan minat, (4) tugas disesuaikan dengan minat dan pengalaman siswa sebelumnya, (5) materi matematika yang disajikan disusun dan diberikan sedemikian rupa sehingga menarik perhatian dan mengikutsertakan siswa, dan (6) memberikan kesempatan kepada siswa untuk melakukan penguatan pada diri sendiri atas usaha dan ketahanannya.
Sedangkan menurut Rustiyah (1989: 40), Komponen sekolah yang dapat mempengaruhi motivasi belajar siswa antara lain: guru, materi pelajaran, alat peraga, model dan metode pelajaran, serta lingkungan fisik sekolah. Ada tiga hal mengenai guru yang mempengaruhi motivasi belajar siswa yaitu: (1) kebiasaan guru di kelas, (2) sikap dan gaya guru, (3) penguasaan siswa dalam kelas. Motivasi siswa juga dipengaruhi oleh materi pelajaran yang dibutuhkan siswa, alat peraga yang mendukung pembelajaran yang menarik, serta model dan metode pembelajaran yang tepat.
Model Pembelajaran Problem Posing
Problem posing merupakan istilah dalam bahasa Inggris, sebagai padanan katanya digunakan istilah “merumuskan masalah (soal)” atau “membuat masalah (soal)”. Menurut Lyn D. English (1997; dalam Suyitno, 2007: 2), model pembelajaran Problem Posing adalah suatu model pembelajaran yang mewajibkan para siswa untuk mengajukan soal sendiri melalui belajar soal (berlatih soal) secara mandiri. Problem posing mempunyai tiga pengertian, yaitu: pertama, problem posing adalah perumusan soal sederhana atau perumusan ulang soal yang ada dengan beberapa perubahan agar lebih sederhana dan dapat dipahami dalam rangka memecahkan soal yang rumit (problem posing sebagai salah satu langkah problem solving). Kedua, problem adalah perumusan soal yang berkaitan dengan syarat-syarat pada pada soal yang telah dipecahkan dala rangka mencari alternatif pemecahan lain (sama dengan mengkaji kembali langkah problem solving yang telah dilakukan). Ketiga, problem posing adalah merumuskan atau membuat soal dari situasi yang diberikan.
Suparno (2007: 100), menyatakan bahwa dalam model pembelajaran problem posing, siswa diajak belajar lewat menyusun persoalan dan pertanyaan. Setelah para siswa menyusun persoalan atau permasalahan sesuai bahan, guru kemudian mengumpulkan permasalahan itu, dan akhirnya juga para siswa sendiri yang harus mengerjakan persoalannya. Keuntungan model pembelajaran problem posing adalah persoalan yang muncul pada siswa dapat lebih bervariasi daripada yang disiapkan oleh guru sendiri. Dapat juga persoalannya lebih merata dan menunjukan di mana siswa masih mempunyai kesulitan. Dengan demikian guru nantinya dapat lebih mudah untuk membantu menekankan konsep yang perlu dipelajari siswa.
Tetapi perlu diingat bahwa pada pembelajaran problem posing, jika siswa gagal menemukan jawabannya, maka guru merupakan nara sumber utama bagi siswanya. Jadi, guru harus benar-benar menguasai materi.
Barisan dan Deret Bilangan
Barisan dan deret bilangan merupakan materi esensial yang diberikan di kelas IX SMP semester genap. Dalam materi ini dibahas tentang barisan bilangan, deret bilangan dan penggunaannya dalam kehidupan sehari-hari.
Berdasarkan rumusan masalah dan kajian teori di atas, maka model pembelajaran problem posing akan meningkatkan motivasi belajar matematika, sehingga akan mendorong meningkatnya prestasi belajar matematika. Pembelajaran problem posing akan mendorong siswa yang malas belajar untuk mempelajari materi yang disajikan, karena ia punya tugas untuk membuat soal beserta penyelesaiannya. Siswa akan dapat membuat soal dengan baik jika memahami materi bahan ajar dengan baik. Hal tersebut akan mendorong siswa untuk mempelajari unsur-unsur yang ada pada materi tersebut selangkah demi selangkah. Pembuatan soal dalam kelompok, akan membantu siswa yang kurang pandai untuk belajar bersama kepada yang pandai. Dalam proses mempersiapkan persoalan matematika, berarti siswa sudah berpikir tentang materi tersebut. Oleh karena itu, sebenarnya mereka sudah mulai belajar secara konstruktivis. Pembuatan soal beserta penyelesaiannya akan mendorong siswa untuk belajar memahami soal yang dibuat oleh siswa itu sendiri. Hal itu akan meningkatkan pemahaman konsep materi tersebut, sehingga akan menambah motivasi dalam belajarnya, yang pada akhirnya akan meningkatkan hasil belajar siswa. Semakin banyak soal yang bisa ia buat dan bisa ia selesaikan dengan benar  akan menambah rasa percaya diri pada diri siswa, sehingga akan menambah motivasi belajar pada diri siswa. Dengan menggunakan model pembelajaran problem posing akan memberikan nilai komunikasi dan pengalaman belajar bagi siswa. Sebagai jawaban sementara atas hasil tindakan yang dilakukan dalam penelitian ini maka dapat diajukan suatu hipotesa, yaitu  melalui model pembelajaran problem posing  dapat  ditingkatkan  motivasi  belajar  matematika 

METODOLOGI PENELITIAN
Setting dan Subyek Penelitian
Penelitian Tindakan kelas ini dilakukan pada bulan Desember 2007 sampai bulan April 2008 di SMP Negeri 13 Purworejo Jalan Tentara Pelajar N0 2 Kutoarjo Kabupaten Purworejo. Subyek penelitian adalah siswa kelas IX-E SMP Negeri 13 Purworejo tahun pelajaran 2007/2008 yang berjumlah 40 anak.
Teknik Pengumpulan Data
Teknik yang digunakan dalam pengumpulan data adalah teknik tes dengan menggunakan tes tertulis dan teknik non tes dengan menggunakan teknik observasi dan wawancara.
Analisis Data
Data yang terkumpul yang berupa data kuantitatif dianalisis dengan menggunakan analisis diskriptif komparatif yang dilanjutkan dengan refleksi. Diskriptif komparatif dalam hal ini dengan cara membandingkan hasil tes pada kondisi awal dibandingkan dengan hasil tes pada siklus pertama, dan hasil tes pada siklus pertama dibandingkan dengan hasil tes pada siklus kedua. Sedangkan data yang berbentuk kualitatif yang diperoleh dari proses pembelajaran dianalisis dengan menggunakan analisis deskriptif kualitatif yang dilanjutkan refleksi.
Prosedur Penelitian
Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode penelitian tindakan kelas. Dalam pembelajaran, peneliti menggunakan model pembelajaran problem posing. Terdapat dua siklus dalam penelitian ini, dan tiap siklus terdiri dari empat tahapan, yaitu: (1) menentukan perencanaan tindakan; (2) melaksanakan tindakan; (3) melakukan pengamatan hasil tindakan dan (4) melakukan refleksi dari hasil pengamatan.
Dalam proses pembelajaran dengan  model pembelajaran problem posing, kegiatan yang dilakukan adalah siswa membuat soal beserta penyelesaiannya untuk saling dikerjakan oleh siswa lain sesuai kompetensi dasar yang diajarkan. Mula-mula guru menjelaskan materi pelajaran kepada para siswa. Guru memberikan contoh/latihan soal secukupnya. Kemudian siswa diminta mengajukan 1 atau 2 buah soal yang menantang, tetapi siswa yang bersangkutan harus mampu menyelesaikannya. Soal tersebut kemudian saling ditukar dengan temannya untuk dicari penyelesaiannya. Setelah selesai dikerjakan, dikembalikan ke pembuat soal untuk dikoreksi dan dikomentari. Tugas ini  dilakukan secara kelompok (mengacu pada pembelajaran kooperatif), sehingga anak yang lemah dapat dibantu oleh anak yang pandai (penggunaan tutor sebaya). Kemudian siswa diberi tugas untuk membuat soal beserta penyelesaiannya secara individu.
 Selama proses pembelajaran berlangsung, guru melakukan monitoring terhadap motivasi dan aktivitas siswa, antara lain: (1) sikap penerimaan materi, meliputi: sikap serius, antusias, dan sikap senang, (2) keberanian bertanya dan mengemukakan pendapat, dan (3) ketuntasan siswa dalam menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan guru. Selain mengamati proses pembelajaran, guru juga menganalisis data  yang  diperoleh   yang berupa hasil pengamatan/monitoring motivasi dan aktivitas siswa serta tes hasil  belajar siswa.
Hipotesis Tindakan
Melalui model problem posing pembelajaran matematika dapat meningkatkan motivasi belajar barisan dan deret bilangan pada siswa kelas IX-E SMP Negeri 13 Purworejo tahun pelajaran 2007/2008.

HASIL PENELITIAN
Berdasarkan data hasil pengamatan/monitoring dan wawancara beberapa siswa menunjukan bahwa sebagian besar siswa menyatakan setuju dan senang terhadap penerapan model  pembelajaran problem posing, karena mereka dapat saling tukar pengetahuan dan pengalaman belajar dengan teman yang lain, memperoleh pengalaman belajar yang berarti, serta menimbulkan rasa percaya diri, sehingga dapat menambah motivasi belajarnya. Motivasi dan aktivitas siswa secara individu juga nenunjukan peningkatan dari cukup hingga sangat baik pada siklus I mencapai 70%, dan pada siklus II terjadi peningkatan yang cukup baik yaitu menjadi 85%. Hasil penelitian pada siklus II juga menunjukan bahwa sikap siswa dalam menerima materi pelajaran  sudah menunjukan sikap yang lebih serius, antusias, dan senang yaitu hingga mencapai 90%, serta penyelesaian tugas-tugas yang dikerjakan oleh siswa juga mengalami peningkatan hingga mencapai 90%. Sedangkan dilihat dari prestasi hasil belajar siswa  yang sebelum siklus I hanya memperoleh  rata-rata 6,75 dan ketuntasan belajar klasikal 68%, ternyata setelah digunakan model pembelajaran problem posing pada siklus I diperoleh rata-rata sebesar 7,85 dengan ketuntasan belajar klasikal mencapai 80%, hingga pada siklus II mengalami peningkatan yang cukup baik yaitu memperoleh rata-rata sebesar 8,25 dan ketuntasan belajar klasikal mencapai  84%.

SIMPULAN DAN SARAN
Simpulan
Melalui model pembelajaran problem posing dapat meningkatkan motivasi belajar barisan dan deret bilangan pada siswa kelas IX-E SMP Negeri 13 Purworejo tahun pelajaran 2007/2008

Saran
Penelitian ini membuktikan bahwa melalui model pembelajaran problem posing dapat meningkatkan motivasi belajar barisan dan deret bilangan pada siswa kelas IX-E SMP Negeri 13 Purworejo tahun pelajaran 2007/2008. Meningkatnya motivasi belajar siswa juga berdampak pada meningkatnya prestasi belajar siswa.

DAFTAR PUSTAKA
Ella Yulaelawati. 2004. Kurikulum dan Pembelajaran. Bandung: Pakar Raya.
Lambas ,dkk. 2004. Matematika. Modul Pelatihan Terintegrasi. Jakarta: Depdiknas.
Rohani Ahmad. 2004. Pengelolaan Pengajaran. Jakarta: PT Rineka Cipta.
Roestiyah. 1989. Dikdaktik Metodik. Jakarta: PT Bina Aksara
Soemanto,Wasty. 2006. Psikologi Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta.
Suparno, Paul. 2007. Metodologi Pembelajaran Fisika. Yogyakarta: Universitas Sanata Dharma
Suyitno, Amin. 2007. Pemilihan Model-model Pembelajaran dan Penerapannya di SMP/MTs. Makalah Pelatihan Bintek Guru-guru SMP. Semarang: Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Propinsi Jawa Tengah.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar